Karim Raslan si Tukang Cerita dari malaysia

Karim Raslan, kolumnis asal Malaysia, meluncurkan buku barunya CERITALAH INDONESIA di ruang rapat redaksi Jawa Pos, Graha Pena Surabaya, Sabtu (9/10/2010). Cukup banyak penulis, sastrawan, seniman, penggiat kebudayaan di Surabaya memeriahkan acara ini.

Ada Suparto Broto dan Budi Darma, keduanya sastrawan senior. Mardi Luhung. Leres Budi Santoso. Bonari Nabonenar. Lan Fang. Tak ketinggalan, tentu saja, tuan rumah dari Jawa Pos: Leak Kustiya (pemimpin redaksi), Arif Santosa (redaktur seni budaya), Muhammad Elman (redaktur senior), Taufik Lamade (redaktur).

Karim Raslan mengunjungi Indonesia sejak 1995. Rupanya, pria campuran Melayu-Inggris ini punya simpati dan empati pada Indonesia. Dia dengan mudah bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat, mulai abang becak, pelacur, tukang sate, hingga petinggi negara dan elite politik di Indonesia.

“Saya ini tukang cerita,” kata Karim Raslan berkali-kali dalam bahasa Melayu yang sudah bercampur bahasa Indonesia dan Inggris.

Bicaranya sopan, tenang, penuh senyum. Tak ada kata-kata kasar terlontar dari mulut maupun tulisannya. Wow, Malaysia harus bersyukur punya kolumnis dan intelektual muda yang cemerlang, cakap, kaya ide, berwawasan luas seperti Karim Raslan! Indonesia beruntung punya sahabat seperti Karim yang punya empati yang besar pada tenaga kerja kita di Malaysia (TKI).

Karim Raslan menulis di kata pengantar buku CERITALAH INDONESIA:

“Tahun demi tahun, saya jadi seorang pengelana, berindah dari satu kota ke kota lain, naik turun kapal laut, mobil dan pesawat terbang. Saya menyadari bahwa seorang pencerita juga harus jadi pengelana, tak henti mencari cerita baru, perspektif yang beda, juga orang-orang yang mau mendengarkan ceritanya....”

Kepada kami, para pendengar cerita, Karim Raslan mengungkapkan kekagumannya pada kehidupan yang bebas dan demokratis seperti kita alami di Indonesia sekarang. Pers bebas. Orang bebas mengkritik, bahkan mengecam pejabat-pejabat mulai kepala desa hingga presiden. Sementara di Malaysia, media massa tidak bisa bebas.

Rakyat Malaysia tak punya kebebasan untuk berbicara secara egaliter dengan datuk-datuk dan bangswan Melayu. Anak-anak dan cucu-cucu para datuk ini pun beroleh perlakuan khusus. Ada sebutan: “Duli Tuanku Yang Mulia!”

Karim Raslan mengatakan, orang Malaysia merasa geli, sekaligus heran, mendengar orang Indonesia bebas menyapa Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan sapaan ‘Pak Sultan’. Di Malaysia, sulit membayangkan seperti itu. Sebab, bangsa Malaysia masih hidup di alam feodalistis. Ada sembilan sultan yang berkuasa dengan segala privelesenya.

Malaysia memang maju pesat sejak 1980-an. Jutaan orang Indonesia disedot ke sana. Sementara Indonesia, yang oleh orang Melayu Malaysia kerap diplesetekan dengan INDON, masih berkubang dengan kemiskinan. Namun, di mata Karim Raslan, Indonesia punya masa depan yang gilang-gemilang.


 Bukan tak mungkin, suatu ketika, justru orang-orang Malaysia yang datang ke Indonesia untuk cari kerja. Karim mengaku sering menyampaikan hal ini kepada para pejabat dan pengambilan keputusan di negaranya agar mereka tidak sekali-kali meremehkan Indonesia. Tapi adakah yang mau mendengar suara Karim, si tukang cerita?

Berdiskusi dengan Karim, bercakap-cakap santai, kemudian makan nasi rawon bareng-bareng, membuat kita melihat wajah Melayu Malaysia yang berbeda. Bukan warga Malaysia, yang congkak, arogan, banyak tingkah, suka bikin gara-gara, doyan mengklaim apa saja, termasuk melarang penggunaan kata ALLAH untuk warga negara Malaysia yang bukan Melayu.

Karim Raslan tipe intelekual yang ramah, cerdas, rendah hati, mau mendengar suara dan keluhan orang Indonesia. Semoga tuan-tuan politisi Melayu di Malaysia mau membaca cerita-cerita Karim Raslan!

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!