Laskar Pelangi


Andrea Hirata menggebrak jagat pustaka kita dengan LASKAR PELANGI. Buku terbitan Bentang, Jogjakarta, yang saya baca sudah cetakan ke-18. Bisa jadi sekarang sudah cetak ulang dan ulang. Apalagi filmnya sudah beredar sejak Lebaran (1/10/2008).

Biasalah, kalau novel difilmkan, orang pun ramai-ramai membeli buku--bagi yang suka membaca lah. Jumat malam, 3 oktober 2008, saya melihat para pembuat film LASKAR PELANGI macam Riri Reza dan Mira Lesmana tersenyum lebar di televisi karena film ini laku keras. Antre tiket di mana-mana.

Saya sendiri, seperti biasa, tidak suka menonton film. Sehebat apa pun resensi atau klaim produsernya. Saya lebih suka membaca buku. Santai, ngopi, sambil membolak-balik halaman. Tidak suka ikut arus. Karena itu, saya tidak tertarik dengan diskusi tentang perbedaan LASKAR PELANGI di buku dan film.

Lantas, apa kehebatan novel LASKAR PELANGI? Sederhana saja, menurut saya. Andrea Hirata bercerita secara runut. Ceritanya sederhana, tapi kuat, karena dipetik dari pengalaman anak-anak kampung yang sekolah di SD Muhammadiyah Belitong.

Sekolah ini mau tutup karena kurang murid. Syarat minimal 10 murid, padahal yang ada hanya 9. Sampai akhirnya muncul Hafan, anak cacat dan terbelakang mental, mengenapi jumlah siswa. Alhamdulillah, sekolah tak jadi tutup. Pak Harfan dan Bu Muslimah bahagia.

Nah, cerita-cerita sederhana khas anak kampung, kiprah 10 anak berjuluk LASKAR PELANGI, ini kemudian mewarnai seluruh buku. Andrea Hirata sangat menguasai cerita, tahu banyak, berikut bumbu-bumbu humor, karena tampaknya dia bagian dari 10 bocah LASKAR PELANGI. Bisa dikata novel ini pengembangan dari pengalaman nyata seorang Hirata.

Sejak kalimat kedua, halaman 1, kita langsung disuguhi kesan ilmiah. Pengarang memakai nama Latin filicium, pohon tua yang rindang di depan sekolah. Nama-nama botani ini sangat banyak. Bahkan, Hirata perlu membuat glosarium untuk menjelaskan nama-nama ilmiah itu.

Syukurlah, novel ini tidak lantas menjadi buku teks biologi, fisika, atau matematika karena alur ceritanya bagus. Masing-masing tokoh punya keunikan dan kekonyolan. Punya kegilaan--yang menurut ibunda Ikal--ada 44 macam. Kegilaan paling parah diidap tiga bocah: Mahar, A Kiong, disusul Flo. Mereka ini penggemar Tuk Bayan Tula, dukun sakti yang tinggal di Pulau Lanun.

Saking gilanya sama Tuk Bayan Tula, Mahar yang seniman, jago musik dan nyanyi, suram masa depan. Oh ya, saya sendiri penggemar Tennesse Waltz, nyanyian Mahar yang memukau teman-teman sekelas plus guru. Lagu lawas ini pada 1980-an dan 1990-an sering dipakai orang-orang Flores sebagai pengiring dansa.

Iramanya waltz, tiga perempat (ketukan pertama keras, ketukan kedua dan ketiga lembut), andante... memang cocok sebagai pengiring dansa. Ini digambarkan Hirata di bab khusus tentang Mahar, 127-138. Bisa dipastikan Hirata penggemar lagu nostalgia itu.

Meski berangkat dari pengalaman nyata Andrea Hirata, novel ya tetap novel. Imajinasi Hirata meluap-luap luar biasa. Bagaimana seorang Lintang, bocah kampung di pelosok Belitong, punya kepandaian melebihi juara Olimpiade fisika-matematika-kimia, bahkan pemenang Nobel. Baca buku apa saja dia? Ini sungguh sulit dibayangkan di alam nyata.

Jenius sih jenius, tapi deskripsi yang dibuat di LASKAR PELANGI jelas sangat berlebihan. Tapi, ya, gaya macam itu sering dibuat para novelis yang punya misi menyampaikan pesan-pesan tertentu. Tokoh-tokoh novel YB Mangunwijaya, misal, selalu bicara tinggi, macam ahli filsafat atau sosiolog, padahal tidak jelas pendidikannya. Novel GROTA AZZURA Sutan Takdir Alisjabana juga ibarat kuliah filsafat.

Si pengarang memang mencekokkan kata-kata di mulut para tokoh. Hirata punya pengalaman, ide, ambisi, misi, obsesi... lalu disampaikan melalui lakon-lakonnya. Dan dalang tak pernah kehabisan lakon, bukan?

Selain LASKAR PELANGI, saya juga sudah membaca seri susulannya SANG PEMIMPI, dan EDENSOR. Dari tiga buku ini, buku pertama, LASKAR PELANGI, tetap yang paling asyik.

Siapa sih yang tak suka anak-anak yang lugu, lucu, dan polos?

Selamat buat Andrea Hirata yang berhasil mengajak orang Indonesia untuk melihat sisi lain kehidupan rakyat di pelosok, sekolah-sekolah miskin, guru-guru yang berdedikasi, serta hidup yang sederhana di desa. Andrea Hirata pun berhasil mengangkat derajat manusia berambut IKAL (dan keriting) yang selama bertahun-tahun dimarginalkan di Indonesia.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!