Soe Tjen Bahas Kematian

Orang Tionghoa di Surabaya itu kompleks. Warna-warni. Tak homogen. Dr Soe Tjen Marching mengangkat kerumitan Tionghoa Surabaya itu dalam novel terbarunya, MATI BERTAHUN YANG LALU. Sastrawan, komponis, dan pendidik ini menggambarkan warna-warni kehidupan orang Tionghoa yang berbeda-beda penghayatan agama dan kulturnya.

Berbicara dalam launching novelnya, pekan lalu, di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya, Soe Tjen secara blak-blakan mengungkapkan warna-warni kehidupan Tionghoa Surabaya itu. “Saya ambil dari pengalaman sendiri maupun apa yang saya lihat di lingkungan sekitar saya,” kata Soe Tjen.

Mantan dosen University of London, Inggris, ini menceritakan kematian Vincentius Budi Surya, seorang wartawan berdarah Jawa yang beristrikan wanita Tionghoa Surabaya, pada 1995. Mendiang Budi yang terkenal dengan inisial Bs ini (bisa Balsam, Brengkes, Bedhes, kata Soe Tjen) beragama Katolik.

Nah, menjelang saat penguburan, terjadi konflik hebat di kalangan keluarga almarhum yang kebetulan berbeda-beda agama dan kepercayaan. Putri Budi berbaju putih polos layaknya suasana kematian Tionghoa. Soe Tjen menulis:

“Beberapa keluarga besar Papa protes: Budi kan bukan orang Tionghoa? Mereka bilang kalau Mama harus pakai cara Jawa....”

Cara Jawa yang bagaimana? “Nggak pakai peti mati, tapi dibungkus kain putih (kafan), dan dibacakan Quran,” papar Soe Tjen di hadapan sekitar 80 mahasiswa dan dosen Sastra Inggris UK Petra.

Kontroversi berlanjut. Keluarga besar almarhum Budi yang Katolik juga protes. Mereka ingin dipanggilkan pastor (romo) untuk memimpin misa requiem sebelum melepas almarhum ke tempat pemakaman.

“Gantian keluarga Mama yang beraliran Konghucu protes karena mereka sudah membawa hio, peralatan sembahyang, serta rohaniwannya,” ungkap pendiri Sekolah Mandala Surabaya itu.

Ribut-ribut soal agama dan tradisi itu pun tak berujung. Akhirnya, di meja sembahyang ada salib Yesus, hio, serta tulisan beraksara Arab. “Budi kan nikah sama orang Jawa, ya, gini jadinya. Gak tahu cara Tionghoa,” komentar keluarga besar dari kalangan Tionghoa totok.

Meski tidak seekstrem seperti dilukiskan di novelnya, menurut Soe Tjen Marching, sampai sekarang pun orang Tionghoa di Surabaya, dan Indonesia umumnya, masih sering meributkan tetek-bengek seperti ritual kematian seseorang. Perbedaan agama, orientasi budaya, hingga kekayaan kerap menjadi kerikil dalam relasi di kalangan Tionghoa maupun non-Tionghoa.

“Wong sudah mati kok diributkan? Semua pihak berlomba-lomba mengurus. Padahal, saat masih hidup, belum tentu mereka itu memberi perhatian,” ujar Soe Tjen lantas tertawa kecil.

Stefanny Irwan, dosen UK Petra, yang juga cerpenis, menilai novel perdana Soe Tjen Marching ini penuh dengan satir-satir yang dinamis dan lincah. Soe Tjen menyentil berbagai aspek kehidupan orang Indonesia, khususnya Tionghoa.

Sobat perlu baca yang ini juga:

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan pesan !!!